Halaman

Tampilkan postingan dengan label Firqah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Firqah. Tampilkan semua postingan

penting nya berilmu sebagai sumber idiologi



Creamlin Blog. Pentingnya berilmu sebagai sumber idiologi. Dengan ilmu yang lurus maka sesorang akan berpaham atau memiliki idiologi yang benar terutama yang sesuai dengan Alqur'an dan Hadits dan pemahaman para salafushaleh. 

Kesalahan pemahaman ilmu dan idiologi harus diluruskan dengan idiologi dan ilmu yang benar sebagaimana yang terjadi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib dengan kelompok khawarij 

Di masa khalifah rasyidin terakhir, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, muncul sekelompok kaum muslimin yang menolak kesepakatan antara Ali dengan Muawiyah. Dalam posisi ekstrim, mereka mengkafirkan semua sahabat yang berpihak di kubu Ali maupun Muawiyah. Jadilah mereka kubu ketiga. Itulah kelompok khawarij.

Mereka bukan orang munafik. Mereka bukan orang yang malas beribadah. Sebaliknya banyak diantara mereka yang hafal Al-Quran. Dan hampir semuanya menghabiskan waktu malamnya hanya untuk membaca Al-Quran, berdzikir dan tahajud.

Peristiwa tahkim, kesepakatan damai antara Ali dengan Muawiyah radhiyallahu ‘anhuma, yang diwakilkan kepada dua sahabat Abu Musa Al-Asy’ari dan Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, menjadi pemicu sebagian masyarakat yang sok tahu dengan dalil untuk mengkafirkan Ali bin Abi Thalib. Karena peristiwa ini, pada saat Ali bin Abi Thalib berkhutbah, banyak orang meneriakkan:



لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ


“Tidak ada hukum, kecuali hanya milik Allah.”

Mereka beranggapan, Ali telah menyerahkan hukum kepada manusia (Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

Mendengar celoteh banyak orang yang memojokkan beliau dengan kalimat di atas, Ali hanya memberikan komentar:


كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهاَ بَاطِل



“Kalimat yang benar, namun maksudnya batil”

Ali bin Abi Thalib tidak mengingkari kalimat tersebut. Tapi beliau menyalahkan tafsir yang menyimpang dari mereka yang sok tahu dengan dalil (Khawarij). [Simak Huqbah min At-Tarikh, Syaikh Utsman Al-Khamis, hlm. 122 – 124]

Terjadilah perang ideologi antara Ali bin Abi Thalib dengan orang Khawarij. Masing-masing membawa dalil. Bagaimana politik Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib?

Bukan pedang yang maju lebih dulu. Beliau juga tidak membentuk pasukan khusus untuk memberangus mereka. Tidak juga ada badan intelegen untuk mengintai mereka. Tapi, Ali mengajak mereka untuk untuk berdialog. Meluruskan kesalah-pahaman tentang Al-Quran yang mereka yakini. Ideologi dilawan dengan ideologi.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. 656), dari Abdullah bin Syaddad. Dalam riwayat yang panjang itu diceritakan: 


فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ , فَخَرَجْتُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا تَوَسَّطْنَا عَسْكَرَهُمْ قَامَ ابْنُ الْكَوَّاءِ فَخَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ: يَا حَمَلَةَ الْقُرْآنِ إِنَّ هَذَا عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ , فَمَنْ لَمْ يَكُنْ يَعْرِفُهُ فَأَنَا أَعْرِفُهُ مِنْ كِتَابِ اللهِ , هَذَا مَنْ نَزَلَ فِيهِ وَفِي قَوْمِهِ {بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ} [الزخرف: 58] , فَرُدُّوهُ إِلَى صَاحِبِهِ , وَلَا تُوَاضِعُوهُ كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: فَقَامَ خُطَبَاؤُهُمْ فَقَالُوا: وَاللهِ لَنُوَاضِعَنَّهُ كِتَابَ اللهِ , فَإِذَا جَاءَنَا بِحَقٍّ نَعْرِفُهُ اتَّبَعْنَاهُ , وَلَئِنْ جَاءَنَا بِالْبَاطِلِ لَنُبَكِّتَنَّهُ بِبَاطِلِهِ , وَلَنَرُدَّنَّهُ إِلَى صَاحِبِهِ , فَوَاضَعُوهُ عَلَى كِتَابِ اللهِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ , فَرَجَعَ مِنْهُمْ أَرْبَعَةُ آلَافٍ , كُلُّهُمْ تَائِبٌ


Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengutus Abdullah bin Abbas. Akupun (Abdullah bin Syaddad) ikut bersama beliau. Setelah kami sampai di tengah-tengah pasukan mereka, datanglah Ibnul Kawa’ (gembong khawarij), dan berceramah:

“Wahai para ahli Al-Quran, inilah Abdullah bin Abbas. Siapa yang belum mengenalnya, sungguh saya telah mengenalnya dari Al-Quran. Dia adalah orang, dimana Allah menurunkan ayat tentang dirinya dan kaumnya,


بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

“Mereka adalah orang yang suka berdebat (ngeyel).”(QS. Az-Zukhruf: 58).

Usir dia untuk kembali ke temannya (Ali) dan jangan diajak diskusi tentang kitab Allah.”

Namun tokoh khawarij lainnya bersikap sebaliknya, mereka mengatakan: “Demi Allah, sungguh kami akan berdiskusi dengannya tentang kitab Allah. Jika dia datang dengan membawa kebenaran yang kami kenal maka kami akan mengikutinya. Tapi jika dia datang dengan membawa kebatilan, akan kami lemparkan dia dengan kebatilannya, dan kami usir kembali ke temannya (Ali bin Abi Thalib).

Merekapun berdiskusi dengan Ibnu Abbas tentang Al-Quran selama tiga hari (untuk mencari titik tengah mengenai peristiwa tahkim), akhirnya ada 4000 orang diantara mereka yang insaf, dan semuanya bertaubat. (HR. Ahmad, Tahqiq Ahmad Syakir, no. 656 dan beliau mengatakan: Sanadnya shahih).


Sumber : Creamlin Blog
Referensi : Konsultasi Syariah .com
Read More

Larangan Berbangga dengan Ormas tertentu


Creamlin Blog. Larangan berbangga dengan Ormas tertentu merupakan topik yang menarik untuk diangkat. Karena hal ini fenomena yang ada di sekitar kita sebagai contoh saja ormas islam yang besar di Indonesia adalah Muhamadiyah dan NU. Sehingga ada anggapan jika imam nya orang Nu gak syah sholat nya ataupun sebaliknya.

Perlu menjadi catatan dalam masalah amal ibadah selama dalam penunaiannya memenuhi syarat dan rukunnya maka insyaAllah syah. Sebagaimana kaidah masyhur  terkait masalah shalat jamaah. kaidah itu menyatakan:
من صحت صلاته صحت إمامته
“Orang yang shalatnya sah, maka shalat dengan bermakmum di belakangnya juga sah”
Oleh karena itu, selama sang imam shalat adalah orang yang aqidahnya lurus, tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan syahadatnya batal, alias masih muslim, syarat, rukun, dan wajib shalat dikerjakan maka shalatnya sah. Meskipun ada perbedaan pendapat antara imam dan makmum dalam masalah rincian shalat.
Kita akui dalam masalah fikih shalat, ada beberapa perbedaan antara Muhammadiyah dengan NU. Bahkan tidak hanya dua organisasi ini. Perbedaan ini juga terjadi antar-madzhab dalam fikih. Kendatipun demikian, shalat mereka tetap sah, selama syarat, rukun dan wajib shalat terpenuhi.
Akan menjadi ancaman bagi umat islam jika terlalu berbangga dengan ormas atau golongan tertentu. Karena menjadi Larangan berbangga dengan Ormas Tertentu yang membuat perpecahan dikalangan umat islam. Hal ini pernah terjadi di masa Rasulullah SAW

Suatu ketika pernah terjadi perselisihan diantara Muhajirin dan Anshar. Suatu ketika ada orang Anshar yang tersakiti hatinya oleh sikap orang Muhajirin. Diapun marah besar, kemudian memanggil teman-teman Anshar: “Wahai masyarakat Anshar..!!” Spontan orang Muhajirin langsung memanggil temannya juga: “Wahai masyarakat Muhajirin..!!” Mendengar teriakan-teriakan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung keluar menyelai:
مَا بَالُ دَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ
Apa yang kalian lakukan denagn meneriakkan nama kelompok kalian…
Beliaupun diberi tahu, bahwa ada orang Muhajirin dan Anshar yang saling memukuli pantatnya. Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ
Tinggalkan teriakan itu, karena itu sesuatu yang buruk.” (HR. Bukhari 4905 dan Muslim 1059)
Selanjutnya kita perlu mewaspadai segala godaan setan yang hendak memecah belah umat. Kita jadikan usaha dakwah kita untuk mengagungkan nama Allah, bukan untuk membesarkan organisasi dan kelompok.

Sumber : Creamlin Blog
Referensi : berbagai sumber
Read More